Alegori, Alter Ego, Placebo (Puisi-puisi di NusantaraNews, 10 dan 17 September 2017 & 1 Oktober 2017)

Achmad Hidayat Alsair
5 min readNov 5, 2017

Ada delapan puisi saya yang dimuat dalam waktu terpisah di di kanal “Kreatifitas” situs berita daring NusantaraNews. Berturut-turut pada 10 September 2017, 17 September 2017 dan 1 Oktober 2017. Berikut salinan dari seluruh puisi-puisi tersebut.

______________________________

Mimpi Ibu Mungkin Semacam Nubuat

Sebelum lahir, ibuku sekali waktu bermimpi ganjil

katanya dewasa nanti akan kutulis naskah opera sabun

paling dramatis, paling melankolis, paling panjang

sebab orang-orang di kampungku begitu memuja kemalangan

Pernah mereka rakit sebuah monumen di tapal batas desa

setelah malam tergelap turun diutus oleh langit

membopong banyak gelisah, memberi warna baru pada seluruh kening

Sekali waktu hujan tidak turun selama berbulan-bulan

maka dipanjatkan doa-doa lewat larung sesaji

tak lupa sesembahan penggalan kepala ternak belum kawin

tapi ramalan cuaca tetap sama seperti sebelumnya

mengikis harapan pembaruan salah satu segmen berita

rumah-rumah Tuhan perlahan hilang kumandang

sebab banyak doa menguap dari meja makan

Saat itu, ibuku juga bermimpi ganjil, mungkin semacam nubuat

katanya harus ditanam bibit-bibit cemara di semua bukit desa

kampungku kekurangan pohon dan merayakan tiupan debu

sejak itu, orang-orang antri menafsir bunga tidur di teras rumahku

Masa akil baligh, ibu menyuruhku menikam berbagai macam puisi

harapannya agar kelak aku kerja di ibukota bersama para arsitek dekapan

kutolak nasihatnya, kucabut semua jenis diksi dari ubun-ubun

karena kini yang berguna adalah cara menjelaskan pertempuran

di program berita tengah malam, sesuatu yang selalu ibuku tangisi

(Makassar, Februari 2017)

______________________________

Libur Mendadak

Negaraku sibuk mengarsipkan berbagai perkara :

transkrip persekongkolan pejabat, stadion dengan separuh tribun,

hingga nama-nama pulau terluar yang takkan pernah dikunjungi

sementara kutambah lagi daftar catatan hutang dengan antusias

Negaraku mahir membuat peta dan jejeran lampu lalu lintas

karena ruas jalanan berfungsi melancarkan perpisahan

anak dari kedua orang tua, kekasih dari rumah tunangannya

sementara aku tersesat karena tak mampu mengingat letak seluruh persimpangan

Negaraku mengatur setiap pertikaian terlihat seperti opera sabun

mengisi malam-malam panjang dengan pertanyaan tanpa jawaban

pedoman rujuk sengaja dipendam pada dasar tumpukan buku undang-undang

sementara asyik kucatat beragam kosa kata baru dari debat tanpa aturan bernama internet

Negaraku paham cara menyajikan berita buruk :

tercetak dengan huruf-huruf besar di halaman pertama surat kabar

membuat kami waspada tanpa harus membeli kamus bahasa alam

mungkin itu sebabnya negaraku terlalu dermawan memberi hari libur

(Makassar, Februari 2017)

______________________________

Catatan Malam Karaoke

Orang-orang di ruang karaoke

meluaskan jangkauan patah hati

diikuti rancangan denah tempat sembunyi

sebelum dijepit macam-macam kendaraan

Ratusan hembusan nafas dari botol minuman impor

menjadi hiasan dinding paling tulus

yang memantul, yang merambat

lengkapi perintah untuk tetap padamkan lampu

Dan di kolong meja kuselipkan sedikit ruhku

membaur dengan kawanan kuman di lantai

sebab sofa terlalu santun dan penurut

menolak rebahan hingga lompatan

Pilihlah satu lagu

kemudian lantunkan sebagai suara parau

jangan khawatir, kita jauh dari ketenangan rumah ibadah

anggap saja ini usaha menumpah air mata

di tempat yang tidak semestinya

(Makassar, Februari 2017)

______________________________

Untuk Jarak, Kepalaku dan Rumahmu adalah Acara Komedi

Di jarak, kuukur kembali penantian

dan pesan-pesan singkat bisa diabaikan seperti nasib negara

menjadi jaminan bagimu untuk tetap tidur selepas kembali dari piknik astral

Tidak ada waktu untuk kutipu dengan telak

matematika menyumbang ilmu gamang dalam rahim biru laut

ingatan terpukau cetak biru rancangan jalan pintas keluar dari kantung air mata

Kepalaku adalah setumpuk album foto

diikuti narasi hingar-bingar kota yang mewarisi insomnia

terlihat tubuhku, rebah beku meniru bermacam-macam bentuk trotoar

Rumahmu, terang di pinggir belantara

kawanan liar mengaku asing dengan anatomi lampion

dengarlah ngengat bersidang membahas kemungkinan dekam di keningmu

Di jarak, kupangkas durasiku terjaga

mengelak dari acara komedi di mana aku hanya figuran

pajangan tanpa adegan, belum pantas terekam atau menandingi keriuhan di gawaimu

(Makassar, Desember 2016)

______________________________

Potret Sarapan Pagi di Daerah Urban

Pagi ini aku belum mengunyah apa-apa

kecuali sekilas berita dari negara yang tidak akan kudatangi esok

satu demi satu, hingga mulutku memudahkan izin untuk gunjingan

Percakapan paling sengit diperam untuk tayang tengah malam

alarm weker diutus mengawal orang-orang pergi dari mimpi bertema pertempuran

Kemudian kau bangun, panaskan kompor dan memeriksa kulkas

persediaan diakali dengan cerabutan tipis daging beku

“inilah praktek prosesi cara memuliakan syair pujangga kasmaran

dalam kepul aroma hasil pergumulan macam-macam bumbu rempah”

kau sajikan di dapur tanpa sekat, undangan terbuka tuntaskan lapar

Pagi ini kita makan, seperti biasa, seperti hari-hari kemarin

kecuali sebuah piring yang kosong tanpa hidangan sama sekali

di situ sejak dulu kutaruh daftar rencana liburan yang tidak pernah kita kunyah

(Makassar, Februari 2017)

______________________________

Alegori

Seperti benih-benih jingga yang setia lengkapi parade harian awan

dan usahanya untuk segera hilang dari jangkauan pintu rumah

tanpa permisi, tamu yang harusnya kurir kabar

malah mengajari anak-anakku cara uraikan kemacetan sebagai kelakar

Seperti pantai dan pondok yang pandai menyulut pertemuan

sebab alasan-alasan membatasi waktu untuk mengelak

sengaja dilangsungkan upacara ingatan di penghujung sore

meski hafalan puisi hujan memuai, saat kemarau sepanjang pekan tetap utuh

(Makassar, Februari 2017)

______________________________

Alter Ego

Kusimpan terik matahari timur

agar dia tahu betapa giat

rindu mengukir setiap senti daun pintu dengan presisi

Jam malam dimulai kembali

segera kubur jurnal perjalanan seorang demonstran

karena buku-buku kini dinobatkan jadi ancaman negara

Dengar, detak arloji semakin nyaring

bergulir di kepala para serdadu

seusai serpih pelukan menjadi berhala di garis depan

Jangan sekali-kali mengabadikan satu musim

pergantian tarikh adalah wewenang almanak

kita hanya mengucap dialog rutin awal pekan, contohnya gerutu

Kelahiran, upacara paling khidmat

melepas jabang bayi di bibir belantara

tanpa bekal, kudoakan dia semoga cepat tertawa

Kuperas rahim muson di kamar

perintah hujan bertolak diam-diam

berharap dewata kembali mengingat khidmat senandung

(Makassar, Januari 2017)

______________________________

Placebo

Nanti sakitku mengubah warna cahaya di lorong bangsal

dukungan usaha sia-sia membaca resep dokter dan senyawa kimia dalam obat

berujung pada tidur siang terpanjang : hingga malam

bahkan dalam mimpi pun astralku merasa demam

Lidah menolak segala rasa dengan cara menyebar pahit

indera tersisa berusaha tetap bekerja walau lampaui batas

sementara kulit menyuburkan peluh, hujan seolah pindah ke tubuhku

teh hangat lupa diseduh, lanjutan gagalnya perundingan perihal jam besuk

Puisi-puisi jelas diragukan berhasil datangkan pemulihan

tabib pertama peradaban tak bertetangga dengan pembaur diksi

maka apa yang manjur selain cemilan tablet dan selang infus?

mungkin mengurangi tuntutan tubuh untuk menguasai malam

(Makassar, Februari 2017)

--

--