Bincang Negara

Achmad Hidayat Alsair
2 min readSep 12, 2017

--

“Coba lihat koran ini, bung. Korupsi makin beringas saja.” Diperlihatkan koran tersebut ke temannya yang sedang duduk di sofa.

“Wah, makin gawat saja ini negara. Di mana-mana ada yang tidak beres. Negara ini diambang kehancuran.” Temannya sibuk meneguk kopi yang biasa disuguhkan di pagi hari.

“Aku dengar statistik angka kemiskinan negeri ini bisa disulap sedemikian rupa agar para atasan si tukang sensus senang, begitu pula atasan si atasan si tukang sensus. Intinya biar semua senang, lah.”

“Wah, tidak boleh begitu. Angka si miskin tidak berpunya jangan dipalsukan, cukup tempe yang dipalsukan. Negara ini butuh orang miskin dan pengangguran supaya pejabatnya kerja, dan di akhirat Tuhan tahu kepada siapa meminta pertanggungjawaban.”

“Pada dasarnya si miskin memang harus diberi makan. Semua harus makan. Ah, aku tiba-tiba idealis begini ya? Padahal semalam aku hanya baca buku kisah para Nabi dan Rasul.”

“Sebaik-baik pemimpin ya seperti kanjeng Nabi. Mengayomi umat tanpa terkecuali, peduli pada yang fakir miskin, sembari tetap berusaha menjaga keutuhan dengan umat agama lain.”

“Sungguh beliau adalah murah hati, orang pilihan Tuhan…”

Kudengar mereka berbicara serius tentang negara ini. Kuamati dari balik jendela. Yang membaca koran dan berbicara statistik palsu adalah pejabat kasus korupsi yang seluruh asetnya disita negara.

Sementara temannya adalah seorang pemuka agama yang banyak menipu orang demi kesenangan pribadi. Entah kenapa mereka berakhir di sini, Rumah Sakit Jiwa.

Tuhan memang punya “etos kerja” sendiri dalam memberi teguran atau hukuman ke hamba-Nya yang ngeyel. Oke, sudah waktunya mereka minum obat.

(Makassar, 22 Desember 2016)

Catatan : Fiksimini ini pernah dimuat di kanal Linifiksi situs hiburan LiniKini.id, Senin 22 Mei 2017 : http://linikini.id/linifiksi/3881/linifiksi-fiksimini-achmad-hidayat-alsair

--

--