Otoritas Otoriter

Achmad Hidayat Alsair
4 min readSep 24, 2019
Unsplash.com/lianhao (Lianhao Qu)

Sudah sebulan lebih, pemerintah mengeluarkan peraturan baru: seluruh jenis awan harus didata oleh negara. Di mana mereka lahir, berapa muatan uap lautan yang bisa mereka kandung, siapa ayah-bundanya, kota apa saja yang mereka singgahi, dan lain-lain.

Alasannya, bahwa kebijakan pencatatan sipil mengharuskan “semua yang ada di darat, laut dan udara wilayah Republik harus patuh pada otoritas tempatnya bekerja sehari-hari”.

Pemerintah juga membuat jadwal keberangkatan dan kedatangan seluruh awan mendung pembawa hujan. Hujan-hujan sebagai anak awan dalam suatu musyawarah gaib sendiri bingung kenapa gerak-geriknya harus diatur negara.

Setelah sejumlah rapat diselingi proses penguapan, mereka menelurkan maklumat bahwa pemerintah tidak punya hak untuk mengatur hal-hal yang menjadi otoritas alam. Manusia dan alam memang tidak bisa akur sejak mesin uap, lokomotif dan listrik diciptakan.

“Kami jelas tidak melakukan kesalahan apa pun,” kata juru bicara mereka (dia mengaku adalah hujan yang jadwal kedatangannya selalu jam tujuh malam di hari-hari pertama bulan Maret) pada sebuah jumpa pers di kedai kopi paling sepi yang terletak di daerah pinggiran ibu kota.

“Hujan tidak bisa diatur dan akan selalu begitu. Itu semua sudah menjadi aturan tidak tertulis yang dibuat Dia-Yang-Agung sebelum semesta diciptakan,” ujar si juru bicara hujan sembari coba menahan petir yang sudah mendobrak-dobrak rapuh dadanya.

“Kalau begitu bagaimana dengan banjir yang menyapu habis daerah pinggiran kota terbesar kedua negeri ini?”, tanya seorang wartawati yang baru saja mengundurkan diri dari tempat kerjanya selama sepuluh tahun.

“Saya tanya kembali kepadamu, manis. Sudah berapa pohon yang ditanam?”, hujan menjawab enteng.

Selanjutnya para wartawan yang tidak punya gambaran apa pun tentang perangai cuaca malah bertanya pertanyaan seperti “Siapa pacar Anda?”, “Sudah salaman dengan presiden?”, atau “Pernah mengintip orang mandi?” dengan harapan ada sebuah judul sensasional yang bisa mereka tulis di internet untuk dikomentari orang-orang yang tidak pernah membaca.

Juru bicara hujan hanya tertawa dan hanya menjawab singkat seluruh pertanyaan dengan dua kata, “Tuhan memberkati.”

Jumpa pers selesai karena tubuh juru bicara mulai berkedip mengeluarkan cahaya kilat bercabang-cabang yang semakin lama semakin terang. Para wartawan tentu saja takut, mereka masih butuh meliput acara pernikahan seorang penyanyi cantik jelita dengan presenter acara jelajah wisata pada malam itu juga. Jumpa pers selesai, lanjut sesi foto. Juru bicara hujan lalu kembali menghadap majelisnya, yang sebagian anggotanya kini mulai gemuk karena izin mereka selalu ditolak pemerintah.

Kembali ke Bumi, tentu saja ada penolakan dari para penyair perihal peraturan pembatasan hujan. Alasannya pun sama: cuaca dan keturunannya tidak boleh diatur negara. Bisa kualat, katanya. Melawan wewenang Dia-Yang-Agung. Sebagian lagi malah mendukung.

“Ini justru hal bagus sebab banyak dari mereka yang tersedak genangan dan berputar-putar dalam puisi hujan dan hal picisan lain yang mengikuti rinainya,” kata seseorang yang pernah percaya pada cinta.

Tapi negara tidak ambil pusing. Hujan yang turun di wilayah yurisdiksi harus taat dan patuh pada undang-undang dan peraturan yang berlaku. Tidak patuh? Silakan hujan di negara lain. Ini wilayah saya, kekuasaan saya. Harus ikut aturan main saya.

Para penyair (didukung oleh barisan pemuda-pemudi tanpa pasangan) kemudian mengadakan demonstrasi di depan istana Presiden, meminta hujan dikembalikan kebebasannya. Mereka berorasi, atau lebih tepatnya, membaca mantra pengundang hujan milik seluruh bangsa dan suku-suku di dunia. Berharap yang dipanggil akhirnya mengabaikan peraturan dan tumpah ruah bersama.

Malam makin larut, purnama makin bulat saja. Perkumpulan belum bergeming. Tapi yang diundang belum juga muncul. Desas-desus mengatakan hujan sedang ditahan oleh aparat di tempat yang dirahasiakan. Kabar itu menyebar, begitu cepat.

“Ini tidak bisa dibiarkan!”, seorang penyair yang dikenal mewartakan hujan janggal di bulan musim kemarau berteriak lantang sembari mengepalkan tangan ke udara, melawan usianya yang sudah kepala tujuh.

Api telah disulut oleh kabar yang belum tentu benar. Perkumpulan itu sudah gelap mata rupanya. Lembar-lembar puisi hujan dan kerinduan dibakar, diubah menjadi peluru paling tajam. Setiap tanda titik dan koma disatukan, menjadi anak panah yang siap dilepas. Ada pun air mata diuapkan jadi gas, berharap jadi kembaran gas air mata tapi tidak berhasil.

Keadaan menjadi di luar kendali. Aparat terpaksa menembakkan peluru tajam ke udara, membelah sunyi langit. Perkumpulan berlindung di balik perisai kata-kata penuh luka. Malam senyap berubah merah. Tinggal menunggu waktu hingga ibu kota menjadi sinonim dari pertempuran.

Tapi sekonyong hadir mukjizat. Hujan turun! Hujan juga ikut melawan negara dengan ketidakpatuhan pada jadwal yang telah ditetapkan. Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara menggelegar dari langit, menghardik dengan gema yang tak pernah didengar umat manusia sebelumnya.

“Kalian tidak pernah belajar tentang kemerdekaan! Kalian gila mengatur! Kalian gila urusan! Hai, anak-anak hujan! Jatuhkan derai paling deras seperti yang kalian lakukan pada zaman Nabi Nuh! Biar mereka tahu jera!”

Alam telah melawan. Topan mengiringi simfoni paling bising ini. Petir menyambar-nyambar seperti hendak mencium ubun-ubun para penduduk. Semua gempar. Perkumpulan bersuka ria. Aparat mundur, basah kuyup. Istana bergetar temboknya. Dia-Yang-Agung ikut mendukung aksi alam unjuk gigi.

Lalu, seorang perwakilan negara dengan susah payah menaiki atap istana. Bendera putih dikibarkan dengan tangan gemetar, begitu kecil, tapi sorak sorai membahana, pelampiasan sukacita kemerdekaan anak semesta. Rombongan hujan dan perkumpulan akhirnya bubar dengan tertib. Alam kembali tenang. Rembulan bersinar lebih terang dari biasanya. Semua berakhir bahagia dan basah.

Kehidupan berangsur normal. Perkumpulan kembali menjadi orang-orang yang sibuk dengan diri sendiri. Negara sibuk menertibkan para penebang hutan, sementara aparat sibuk membebaskan mereka. Cuaca kembali bebas, hujan tidak perlu jadwal lagi dan tidak bisa ditebak. Di televisi, program ramalan cuaca kembali mengudara.

Tiba-tiba pemerintah mengeluarkan undang-undang baru. Mereka rupanya ingin membatasi durasi seseorang hidup tanpa pasangan. Yang melanggar mendapat dua macam hukuman. Dilarang makan es krim serta merias wajah bagi wanita, dan dilarang nonton pertandingan sepakbola bagi pria. Duh!

(Makassar, 2016–2017)

Catatan : Cerita pendek ini sudah dimuat dalam buku “Jodoh, Hikayat Burung Lelaki, dan Cerita-Cerita Lainnya” (Penerbit Khatulistiwa, 2018) yang disusun secara keroyokan oleh para anggota Dewan Kesepian Makassar.

--

--

Achmad Hidayat Alsair

Percaya bahwa tidur siang lebih berguna daripada begadang.