Dua Setengah Menit Menuju Tengah Malam

Achmad Hidayat Alsair
3 min readFeb 2, 2017
https://theintellectualist.co/wp-content/uploads/2017/01/maxresdefault-2.jpg

Saat menulis artikel ini, saya baru saja membaca artikel tentang waktu yang ditunjukkan “Doomsday Clock” (biasa diartikan jadi “Jam Kiamat”, cocok untuk nama band black metal) adalah 2,5 menit sebelum tengah malam. Jam ini bukan sembarang jam yang bisa diatur-atur jarumnya seenak udel, jam ini milik Bulletin of the Atomic Scientists, sebuah organisasi yang didirikan para ilmuwan nuklir senior pasca “Manhattan Project” (proyek pembuatan bom atom peluluh lantak Hiroshima dan Nagasaki) sebagai bentuk peringatan kepada umat manusia atas kemungkinan paling buruk dari penyalahgunaan nuklir buatan mereka : Perang Nuklir.

Kenapa tengah malam? Tengah malam adalah sebuah pengandaian para ilmuan tersebut untuk perang nuklir atau kehancuran massal yang menghapus peradaban dan kehidupan di muka bumi. Sebuah akhir yang dipaksakan untuk permulaan yang tentu saja getir. Jam inilah yang kemudian diterima secara luas oleh masyarakat dan media massa sebagai simbol seberapa dekat kita dengan ancaman Perang Nuklir.

Tahun demi tahun, jam ini dimaju-mundurkan menyesuaikan dengan keadaan politik dunia yang kita tinggali. Yang paling dekat, 2 menit menuju tengah malam di tahun 1953, tahun dimana Perang Dingin memanas karena Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba uji kekuatan nuklir siapa yang berdaya rusak paling besar. Paling jauh, 17 menit sebelum tengah malam pada tahun 1991, saat dimana Perang Dingin resmi berakhir dan Amerika Serikat — Rusia (pewaris sah Uni Soviet yang baru saja runtuh) membuat kesepakatan pengurangan jumlah misil berhulu ledak nuklir yang ada di gudang senjata masing-masing.

Kini, waktu menuju tengah malam adalah dua setengah menit. Alasan mereka memajukannya dari tiga menit (versi 2015–2016) setelah berdiskusi panjang lebar dengan para ilmuwan terkemuka karena empat faktor. Pertama, upaya penyelesaian masalah pemanasan global yang masih jauh panggang daripada api. Kedua, cybersecurity yang rentan oleh ancaman dengan menyasar kehidupan masyarakat yang kini serba terhubung dan mengandalkan jaringan internet. Ketiga, perlombaan senjata nuklir yang kembali meningkat pasca usainya Perang Dingin, Korea Utara dan Iran belum punya itikad baik untuk mengurangi jumlah kepemilikan nuklir yang dimiliki terlebih Kim Jong-Un masih “bandel” melakukan ujicoba peledakan misil di fasilitas nuklir Korea Utara tanpa peduli ancaman sanksi PBB. Keempat, dilantiknya Donald Trump menjadi Presiden AS ke-45 dianggap sebagai “bencana” (istilah kerennya, Trumpocalypse) karena tabiatnya yang tidak bisa ditebak dikhawatirkan berpengaruh padasegala urusan luar negeri Amerika Serikat bisa semakin amburadul dan mudahnya dia nanti memberi perintah tanpa terlebih dahulu berpikir panjang, misalnya peluncuran misil nuklir.

Jam ini mungkin hanya merupakan simbol, dan ditolak telak oleh para pemeluk konservatif dengan alasan “melakukan wewenang Tuhan”. Tapi jam ini berusaha selalu memperingatkan seberapa dekat kita dengan kehancuran yang (ironisnya) dibuat oleh manusia sendiri. Jam ini berusaha memperingatkan siapa kita dan apa yang harusnya kita lakukan. Semua isme-isme yang kita perjuangkan dengan gigih baik di forum-forum diskusi atau di dunia maya akan hilang lenyap tak bersisa jika kode-kode perintah peluncuran misil nuklir telah dikeluarkan. Semua masalah politik yang membuat kita bertengkar tiap hari dengan sanak saudara-teman-tetangga-pacar akan menguap sampai lunas jika awan cendawan membumbung tinggi diikuti hawa panas dan radiasi hasil ledakan menyebar di kota yang kita tinggali.

Manusia memang makhluk yang ambigu. Kita bisa menyulap gurun jadi padang rumput sekaligus merubah gunung raksasa menjadi kawah bekas galian berukuran maha luas. Nuklir sejak awal diciptakan telah menjadi pro-kontra di kalangan ilmuwan, berguna atau tidaknya tergantung dari siapa yang menggunakan. Kita masyarakat dunia mungkin hanya bisa melakukan protes kecil-kecilan di dunia maya atau di pinggir jalan agar para pemimpin dunia mau bahu membahu menyelesaikan masalah nuklir dan lingkungan agar waktu menuju tengah malam bisa diundur sedikit demi sedikit. Jika sendiri dirasa belum cukup, ada Greenpeace siap menjadi tameng terdepan kemaslahatan masa depan Bumi dengan metode mereka sendiri yang bisa dibilang “nyentrik” (kalau tidak ingin dibilang “cenderung ekstrim”).

Bagaimana dengan kita sebagai orang Indonesia? Ah, kita terlalu sibuk dengan keadaan politik yang carut-marut seperti isi buku berisi coretan anak berumur tiga tahun. Isu “bencana nuklir” tidak se-seksi isu sektarian atau ras yang selalu dipermainkan para elit politik. Kita mungkin akan tetap berdebat siapa yang lebih unggul dan siapa yang harus tunduk sampai saat dimana ibukota yang kau dan aku kenal dari televisi menjadi abu oleh ledakan rudal nuklir. Semoga saja tidak terjadi seperti demikian. Semoga.

--

--