Nasihat Seorang Petapa Kepada Muridnya (Puisi Achmad Hidayat Alsair di Buku Antologi Bersama “Percik Tinta Maknai Kertas”)

Achmad Hidayat Alsair
2 min readNov 6, 2016

“Pentingkah warna hitam?” tanya seorang murid pada si pertapa.

Sambil mengelus janggutnya yang berusia ratusan tahun, si pertapa berkata.

“Hitam adalah warna milik alam, dan akan selalu ada.

Tanpa hitam, hidup jadi tiada punya makna.

Apakah eksotika bentang malam dan cahaya bintang akan lengkap tanpanya?

Apakah kau bisa menyerap isi buku tanpa dia sebagai tinta?

Apakah kau bisa mencatat makna hidup jika dia tak ada dalam pena?

Apa tanpa dia bisa terisi sebuah rasa kehilangan dan duka?

Bukankah dalam nyenyak tidur, warna hitam adalah penyambutnya?

Terpikir olehmu bahwa peraduan paling tenang adalah

di dalam ruang di mana hitam adalah penguasa?

Aku mendengar dari seorang pertapa bahwa

jagat semesta berotasi atas bantuan energi gelap dimana hitam adalah pengisinya.

Aku tahu hitam perlambang kejahatan di banyak mata,

tapi itu hanyalah hasil amatan yang tak seksama.”

“Lalu bagaimana dengan warna putih?” tanya si murid kembali.

“Putih juga warna hakiki alam ini.

Tanpa putih, hidup akan terampai dalam sepi.

Apakah terang akan terasa magis tanpa semburatnya yang muai?

Apa pelangi akan indah tanpa pancarnya bias di ramai?

Apa tintamu akan indah di atas kertas gelap tak bertepi?

Apa awan gemulai berarak jika kelam ada dalam diri?

Bukankah putih adalah warna yang tampak saat kau pertama jejak ke bumi?

Aku mendengar dari seorang pertapa bahwa putih

adalah warna dasar pancaran hidupan matahari.

Aku tahu putih perlambang baiknya diri,

tapi yang mengenakannya belum tentu pengabdi budi.”

“Lalu apa putih dan hitam ini saling lengkapi, guru?”

“Merekalah pemilik sejati alam ini, anakku.

Sebab di setiap raga manusia ada dua warna itu.

Berputar saling harmoni dalam satu sumbu.

Saling lingkupi sebuah tirai bernama kalbu.

Sebuah sisi diri yang abadi sekaligus rapuh.

Dan kita akan paham bahwa kita dan alam adalah satu.”

(Makassar, 10–12 Maret 2016)

(Puisi ini lolos menjadi kontributor dalam event lomba puisi bertema “Hitam Putih” dan tergabung dalam buku antologi puisi bersama “Percik Tinta Maknai Kertas” terbitan Infinite Publisher)

--

--