Pemberontakan Puisi (Puisi-puisi Achmad Hidayat Alsair di Buku Antologi Bersama Hari Puisi Indonesia Makassar 2017, “Kata-kata yang Tak Menua”)

Achmad Hidayat Alsair
2 min readSep 13, 2017

--

Ada dua puisi saya yang turut mengisi buku antologi bersama “Kata-kata yang Tak Menua” yang menjadi bagian dari perayaan Hari Puisi Indonesia tahun 2017 di Makassar. Sebanyak 74 penyair lintas generasi turut ambil bagian dalam buku ini. Mereka antara lain Aspar Paturusi, Abdee Wahab, Abidin Wakur, Ainun Jariah, Alfian Dippahatang, Ana Mustamin, Andika Mappasomba, Arif Hukmi, Asia Ramli Prapanca, Aslan Abidin, Bahar Merdhu, Dalasari Pena, Damar Al-Manakku, Frans Nadjira, Ibe S. Palogai, Irhyl R. Makkatutu, Jusiman Dessirua, Mariati Atkah, Muhammad Amir Jaya, M. Galang Pratama, M. Yulanwar, Nawir Sultan, Rusdin Tompo, Shinta Febriany, dan lain-lain. Berikut salinan puisi yang disebutkan sebelumnya.

______________________________

Pemberontakan Puisi

Puisi-puisi dilepas dari sarangnya

mencari arah menuju pantai paling sepi

di situ, mereka menumpah raung sejadi-jadinya

menghunus tubuh bungkuk pohon-pohon kelapa

membelah karang pemukiman tanpa penghuni

Puisi-puisi tahu mereka yatim piatu

maka dijelajahi setiap setiap rumah di sudut kota ini

mencari tambahan gurat kata untuk tubuh kumalnya

sebagai penanda bila dia menghiasi surat kabar

di halaman paling belakang edisi akhir pekan

dibuang ke tong sampah sebelum hari Minggu mangkat secara resmi

Puisi-puisi terlalu bisu untuk menunda jam tidur

mereka bersiasat menyusup lewati celah pintu

menggores ranjang dengan pena bertinta air

hujan dan darah dari sebuah demonstrasi

engkau terbangun, sontak percaya ibadah suci memang ada

dalam kata-kata, dalam lidah

menguar dari abu perapian yang padam tanpa aba-aba

(Makassar, September 2016)

______________________________

Malam Para Perajuk

Kita berdua terbangun dan mendapati

ruangan ini masih saja berwarna biru

Bukan cahaya lampu, tapi oleh dahaga pelukan

dan genangan tangis hingga mata kaki

Aku tidak tahu cara mengeringkannya,

aku bukan seorang martir

Kau tidak tahu cara mengeringkannya,

Kautelah sengaja menghilangkan sapu tangan

Maka dimulailah prosesi saling umpat satu sama lain

Berharap di sela kalimat pengobar pitam

akan timbul sedikit pengertian

mengenai siapa sebenarnya kau

dan mengapa kita seperaduan

saat foto-foto kita di dinding rumah tidak cukup membantu

Ketika berakhir, akan ada percumbuan

kemudian luka tusukan belati

(Makassar, Mei 2016)

--

--