Perpustakaan dan Spotify Berwarna Oranye

Achmad Hidayat Alsair
2 min readJan 30, 2024
(Unsplash.com/Travis Yewell)

Sebenarnya efek rumah kaca pernah didoakan menjadi cara kita semua sadar jika hidup ini fana

selain tiga hal : kesalahan, kesalahan dan kesalahan.

Minta maaf memang sudah basi, bagian dari duel skena persilatan lidah yang membosankan,

tapi apa yang bisa diselesaikan tanpa kata-kata?

(sesi berjalan-jalan ke perpustakaan dalam pusat perbelanjaan)

Peter Pan mengajak anak-anak yatim Kota London memberontak melawan rasa tua, Katniss Everdeen membakar seisi Capitol yang bengis dengan orasinya yang menggugah,

Harry Potter melawan teluh maut You-Know-Who dengan kalimat kikuk berakses Inggris, Hua Mulan menemukan dirinya sendiri setelah bernyanyi bersama rembulan penuh magis.

(sesi menyusun playlist Spotify secara acak)

Jeff Keith dari band rock Tesla pernah bernyanyi ini sambil mengenakan legging bermotif totol zebra yang norak :

“Kamu bisa menghubungiku kapan saja, siang atau malam. Kalau butuh pendengar, aku selalu siaga.”

Mari sedikit melakukan perjalanan lintas waktu dan negara. Sembilan ribu dua ratus sembilanpuluhempat kilometer menyeberang Samudra Pasifik dan duapuluhdelapan tahun.

Kang Young-hyun dari Day6 menegaskan bahwa kata-kata cinta adalah rutinitas harian dari suara falsetto tanpa serak :

“Kamu biasa memberitahunya sebelum aku tertidur dan segera setelah aku membuka mata.”

Bahkan bagi Ahmad Dhani dan Ari Lasso, semua kata rindu membuat mereka tak berdaya menahan rasa ingin jumpa.

(sesi menyusun warna dari layar kamera)

Hitam adalah momen pertemuan sambil saling menatap mata,

merah menjadi cara mengingat kencan pertama sembari menonton film tentang boneka plastik krisis jati diri,

ungu selalu menjadi kepang rambut yang ikut tumbuh di atas kepala,

putih identik dengan makanan Asia Timur lezat dengan citarasa asli,

lalu kemudian oranye : warna matahari maha nyala yang selalu melintas setiap aku menatap dengan malu-malu dan salah tingkah.

(sesi malu-malu lagi)

Jadi, jangan pernah lelah dengan kata-kata, ya.

Diri ini bodoh dan masih mungkin selalu terlihat bodoh di hadapanmu.

Prosesnya masih berjalan, tapi memaafkan dan menegur selalu menjadi opsi utama.

Izin tepuk jidat lagi, Fen.

Maaf.

(Makassar, 29 Januari 2024)

--

--