PSM (Adalah) Makassar, Sampai Kapanpun

Achmad Hidayat Alsair
8 min readNov 8, 2017
(Muhammad Idham Ama/Fajar)

Pagi kemarin, suasana kota Makassar begitu lain. Sedih, kecewa, hingga marah. Semua bercampur aduk, dan terasa hingga gang-gang kecil daerah perumahan Bumi Tamalanrea Permai atau keramaian di daerah Pantai Losari. Penyebabnya satu : semalam PSM kalah.

Menjamu Bali United, seluruh suporter baik di Mattoanging atau penonton di layar kaca terdiam ketika Stefano Lilipaly (penyerang gesit kelahiran Belanda yang masih memiliki darah Maluku) menjebol gawang Rivky Mokodompit pada menit ke-95.

Mimpi menjuarai kasta tertinggi sepakbola Indonesia kembali kandas. Impian di depan mata, ambisi, cita-cita dan doa-doa yang telah lama dipanjatkan hilang tanpa bekas. Masyarakat Makassar harus rela menunggu satu tahun lagi. PSM dengan berat hati menunggu satu tahun lagi.

Perasaan yang berkecamuk terbawa hingga tidur. Alhasil jadinya tidak nyenyak. Kami tidak mampu bermimpi lagi. Satu-satunya mimpi telah luruh bersama tangisan anak-anak yang memenuhi tribun tertutup, tribun terbuka hingga mereka yang selalu duduk bertengger di pagar pembatas stadion tua yang sudah lumutan itu.

Membuka linimasa media sosial, mata saya tiba-tiba terpaku pada sebuah foto. Tampak dalam foto adalah Rivky Mokodompit, kiper yang telah berjuang dengan sekuat tenaga malam itu, sedang merangkul dua orang. Satu dewasa, satunya lagi anak-anak.

Dua suporter beda generasi itu tampak begitu terpukul dengan kekalahan tipis yang dialami klub kebanggaan mereka. Mereka menangis di pelukan Rivky, sementara kiper berusia 28 tahun itu terlihat menatap dengan pandangan kosong. Sakit, itu yang menyeruak dalam dada saya.

Saya yang terpaksa menonton melalui televisi setelah kehabisan tiket (terima kasih kepada para calo brengsek) juga tak bisa menyembunyikan kekecewaan. Begitu Lilipaly mencetak gol, saya keluar dari ruang nonton, tak mampu berlama-lama mendengarkan suara komentator Opan Lamara yang memuji skema serangan balik yang dilakukan trio Belanda Comvalius-Bachdim-Lilipaly.

***

“PSM, kami datang, mendukungmu, selamanya”, petikan nyanyian wajib suporter PSM. PSM dan masyarakat kota Makassar adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. (Muhammad Abdiwan/Tribun Timur)

Saya berasal dari satu-satunya provinsi di Indonesia yang gagal menyelenggarakan Liga 3 musim ini. Nama besar PSM turut bergelantung di kepala anak-anak muda sana. Saya sendiri telah mengenal mereka sejak masih duduk di bangku SD berkat layar kaca dan siaran radio Programa 2 RRI Makassar. Masih teringat kokohnya Samsidar di bawah mistar gawang, Darwin Perez-Abanda Herman-Jack Komboy-Charis Yulianto yang bahu membahu menjaga pertahanan, Irsyad Aras dan Ponaryo Astaman yang kerap membahayakan dengan umpan-umpan terukur, serta trio penyerang Ortizan Solossa-Ronald Fagundez-Cristian Gonzales yang ditakuti.

Mendukung PSM bagi orang-orang Sulawesi adalah hal yang mutlak, lebih tepatnya konsensus. Di seantero pulau Celebes ini, hanya “Pasukan Ramang” yang memiliki sejarah perjalanan panjang. Layaknya seseorang pinisepuh yang telah mengecap asam garam kehidupan, usia tua membuat mereka sangat dihormati. Bagi anak-anak yang hobi bermain sepakbola, memperkuat PSM adalah sebuah impian.

Didirikan sejak tahun 1915 (sekaligus menjadi klub sepakbola tertua di Indonesia), PSM telah lima kali menjuarai kompetisi Perserikatan (1956–57, 1957–59, 1964–65, 1965–66, 1991–92) dan satu kali Divisi Utama Liga Indonesia yaitu pada musim 1999–2000.

Dari bentangan 102 tahun, PSM sendirian membawa nama Makassar dan Sulawesi di kancah sepakbola nasional hingga internasional. Apa tidak ada klub lain? Di kota terbesar wilayah Indonesia Timur itu dulu ada klub Makassar Utama yang berlaga di kompetisi semi-profesional Galatama. Nama mereka tercatat dalam sejarah sepakbola Indonesia sebab pernah juara Piala Presiden tahun 1986. Namun seiring meleburnya Galatama dan Perserikatan, mereka hilang tak tahu rimbanya.

Di Sulawesi sebenarnya sangat banyak klub-klub sepakbola lain. Di era Divisi Utama 2000-an, kancah sepakbola Indonesia menyaksikan klub-klub seperti Persibom Bolaang Mongondow, Persma Manado, dan Persmin Minahasa. Ada pula Persim Maros yang sempat unjuk gigi di Divisi II. Namun seiring hancur leburnya kompetisi dan salah urus di tubuh PSSI, mereka harus memulai kembali dari kasta terbawah. Di Liga 2 musim ini ada Celebest FC, klub asal Palu yang musim depan masih berjuang naik ke Liga 1 mendampingi PSM.

***

Selama 102 tahun pula, PSM tumbuh dan membekas di hati penduduk ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Katanya tidak sah menjadi To Mangkasara’ kalau tidak mendukung PSM. Sebuah kredo bahkan mengatakan bahwa hanya ada dua hal di dalam dada masyarakat kota berpenduduk 1,7 juta jiwa tersebut : agama dan PSM. Kecintaan pada klub ini juga begitu dalam untuk sebagian orang.

Tribun utara Mattoanging tidak lengkap tanpa kehadiran Daeng Uki. (Sri/Sportanews)

Daeng Uki, “panglima” kelompok suporter Laskar Ayam Jantan adalah salah satu contohnya. Jika pernah melihat beliau di layar televisi, maka yang kelihatan adalah aura sangar khas orang Makassar. Rambut mohawk dan tato daun marijuana di punggungnya begitu mencolok di tribun Utara stadion Mattoanging, memberi komando kepada “pasukan”. Namun beliau adalah sosok yang dikenal ramah bahkan jenaka oleh anak-anak buahnya.

Rasa cintanya pada klub yang identik dengan warna merah itu terlampau besar. Saking besarnya, beliau sampai dua kali gagal membina biduk rumah tangga. Alasannya sama : istri-istrinya tak tahan dengan hidupnya yang selalu berotasi pada PSM. Bahkan anak bungsu dari istri pertama dia beri nama Jayalah PSM Rezki Ilahi.

Ketika PSM pindah kandang ke Surabaya pada LSI musim 2011 akibat stadion Mattoanging (yang herannya tidak pernah dipugar oleh pengelolanya) tidak lolos verifikasi, Daeng Uki juga ikut pindah ke Surabaya. Alasannya? Agar selalu dekat dengan PSM.

“Saya diceraikan istri pertama karena kecintaan saya dengan PSM, saya memilih tinggal di sana karena homebase PSM di Surabaya waktu itu. Tapi sebagai suami, saya tidak melupakan tanggung jawab saya. Waktu itu, saya tinggalkan usaha yang cukup untuk menghidupi mereka. Tapi sepulang dari Surabaya, saya langsung diberi surat cerai dari pengadilan agama,” tuturnya dalam sebuah wawancara dengan Online24Jam.com.

Pada pernikahan keduanya September 2016 lalu dengan Nur Indah Sari, rumah tangganya kembali kandas di tengah jalan. Baru berjalan seminggu, mereka memilih untuk berpisah.

“Mantan istri kedua saya tidak bisa mengimbangi kecintaan saya terhadap PSM. Dari pada dia tersiksa jadi kami memutuskan untuk bercerai. Saya sudah menghibahkan diri saya untuk PSM. Terus terang lebih baik saya pilih anak-anakku di LAJ dan kecintaan saya terhadap PSM,” lanjutnya.

“Saya tidak pernah menyesali pilihan hidup saya ini. Saya ikhlas lahir batin. Prinsip saya loyalitas bukan popularitas, saya tidak mau orang tahu kehidupan saya,” tutup Daeng Uki.

***

Daeng Uki dan ribuan suporter lainnya tetap setia mendukung PSM bahkan di masa-masa sulit sekalipun. Sejak format Divisi Utama berganti menjadi Liga Super pada tahun 2008, PSM konsisten menjadi klub papan tengah.

Di tahun 2011 mereka melakukan tindakan ekstrim : keluar dari Liga Super untuk menyeberang ke Liga Primer, liga tandingan yang digagas pengusaha Arifin Panigoro sebagai protes atas pengelolaan liga yang tidak profesional.

Alhasil mereka pun “dikucilkan” dari segala aktivitas sepakbola nasional. Pemain-pemain PSM tidak dipanggil ke tim nasional, dan animo masyarakat sempat turun drastis. Di musim pertama LPI, PSM mampu finis di peringkat 3 dibawah juara Persebaya 1927 dan runner-up Persema Malang.

Musim berikutnya (2011–12), LPI kemudian menjadi liga resmi yang diakui oleh FIFA. Pecahnya PSSI membuat klub-klub sepakbola bimbang apakah harus mengikuti LSI atau LPI. Mayoritas kemudian memilih LSI, yang kali ini nasibnya terbalik menjadi kompetisi tidak resmi. PSM sendiri memilih tetap di Liga Primer.

Petar Segrt, datang ke bench PSM dengan setelan jas lengkap untuk memulihkan kehormatan Pasukan Ramang. Hal itu membuatnya begitu dicintai oleh para suporter. (Sanovra JR/Tribun Timur)

LPI musim 2011–12 hanya diikuti oleh 12 tim, dan PSM yang waktu itu dilatih Petar Segrt finis di posisi 6. Mereka juga finis di peringkat yang sama pada musim 2013. Tahun berikutnya, keadaan membaik setelah masalah dualisme PSSI diselesaikan dan status Liga Super kembali dipulihkan sebagai liga utama. Nasib PSM sendiri kembali terpuruk karena di musim 2014 hanya finis di peringkat 7 wilayah timur.

LSI 2015 berhenti di pekan ketiga akibat pembekuan PSSI oleh FIFA. Itu menandai tahun tergelap tidak hanya bagi sepakbola Indonesia tapi juga PSM. Mereka dibubarkan, pemain-pemain kemudian memilih berpetualang di kompetisi tarkam, berhadapan dengan resiko cedera berat demi menyambung hidup.

***

Angin segar baru datang pada tahun 2016 saat sanksi FIFA dicabut. Indonesia Soccer Championship kemudian diadakan untuk mengisi kekosongan kompetisi. PSM hadir kembali, dengan manajemen baru dan materi pemain-pemain baru di bawah komando pelatih Robert Rene Alberts.

Di “Liga Kopi”, tim Juku Eja yang lama menghilang kembali unjuk gigi. Meski hanya finis di peringkat 6, PSM menjelma menjadi tim yang layak diperhitungkan. Hal itu berlanjut hingga Liga 1 musim ini.

Ferdinand Sinaga merayakan gol saat PSM menang 4–1 atas PS TNI (10/9/2017). PSM kini kembali menjadi tim yang disegani setelah pernah menjadi klub papan tengah. (Muhammad Abdiwan/Tribun Timur)

Materi pemain mereka kini dipenuhi oleh nama-nama besar dan pemain bertalenta. Ada Rivky Mokodompit dan Syaiful di bawah mistar gawang. Di posisi pemain belakang ada Hamka Hamzah dan Zulkifli Syukur yang kini pulang kampung, Steven Paulle yang pernah malang melintang di Ligue 1 Prancis, Hendra Wijaya serta pemain muda seperti Wasyiat Hasbullah, Nurhidayat dan Reva Adi Utama.

Di lini tengah ada gelandang pengangkut air Marc Klok, gelandang serang jangkung-tapi-lincah bernama Wiljam Pluim, serta nama-nama yang tidak asing seperti Rizky Pellu, Ridwan Tawainella, Rasyid Bakri, Syamsul Chaeruddin dan pemain muda yang mencuri perhatian saat bersama Timnas U-19; Asnawi Mangkualam.

Di barisan penyerang ada Ferdinand Sinaga, M. Rachmat, Zulham Zamrun, Titus Bonai, Pavel Purishkin dan Reinaldo Elias yang sempat bermain setengah musim.

Bahu membahu mereka mempertahankan posisi PSM di papan atas klasemen, memanaskan persaingan gelar juara. Namun, mereka harus menunggu satu tahun lagi untuk mendatangkan trofi ke Makassar. Kekalahan atas Bali United kembali memupus mimpi tersebut.

Dua gelandang andalan PSM, Marc Klok dan Wiljan Pluim hanya bisa terdiam melihat kericuhan penonton usai tim kesayangan mereka dikalahkan Bali United (06/11/2017). Banyak yang berharap agar mereka bertahan setidaknya satu musim lagi. (Iqbal Lubis/Tempo)

***

Salah satu graffiti PSM menghiasi jalan Perintis Kemerdekaan yang merupakan jalan utama kota Makassar. (Twitter @NorthSquad1915)

Tapi, ada sisi positif. Makassar kembali sepenuhnya menjadi milik PSM. Ya, saya tidak salah menulis. Jika berjalan-jalan di kota Makassar, Anda dipastikan menemui graffiti logo kapal phinisi (alias logo PSM) entah itu di pinggir jalan protokol atau gang-gang sempit. Tidak sulit untuk menemukannya. Selain itu, stiker-stiker PSM dapat dengan mudah Anda jumpai tertempel di ribuan kendaraan bermotor yang lalu lalang.

Yang paling terlihat tentu saja kala PSM bertanding di Stadion Mattoanging. Setiap pertandingan kandang mereka musim ini dipastikan akan penuh sesak. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan, semua tumpah ruah memadati tribun. Pemandangan itu kontras dengan keadaan stadion berkapasitas 15 ribu orang yang sudah tua, kusam dan keropos dimakan usia itu. Warna abu-abu tribun berganti menjadi lautan merah para pendukung.

PSM pantas mendapatkannya setelah sekian lama berkutat di papan tengah dan terasing dari kancah sepakbola nasional. Tahun-tahun penderitaan telah dilalui, mereka telah kembali bersama “kapal phinisi” yang lebih tangguh.

Sebuah pepatah Makassar mengatakan :

Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tamassaile punna teai labuang.

Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan kuberpaling kalau bukan labuhan yang kutuju.

Pepatah lama tersebut selalu dipegang teguh oleh PSM. Klub dengan sejarah panjang itu telah membentangkan layar untuk mengarungi kasta tertinggi sepakbola Indonesia apapun rintangannya. “Pelabuhan” yang dituju tentu saja posisi puncak alias gelar juara.

Mempertahankan keadaan PSM seperti sekarang di musim depan agaknya menjadi hal yang sulit. Ada begitu banyak yang harus diperbaiki oleh manajemen dan suporter. Mempertahankan pemain inti, melengkapi persyaratan agar lolos verifikasi AFC, meminimalisir keberadaan calo-calo tiket brengsek tidak tahu diri yang sering memanfaatkan animo masyarakat, meminta suporter lebih dewasa dan tentu saja meminta agar Stadion Barombong dikebut penyelesaiannya.

Tapi selalu ada keyakinan bahwa semua masalah bisa diatasi. Ingat, pelaut mahir tidak lahir dari kapal megah yang melayari lautan tenang. Mereka lahir dari tempaan badai dan pernah terombang-ambing di samudera luas.

Pelabuhan mungkin masih jauh, ombak boleh tinggi, badai tentu menerjang, tapi angin masih berhembus dan membawa kapal ke satu tujuan yang pasti.

Menutup tulisan ini, saya mengutip dua bait dari lagu “Berjuanglah PSM-ku” :

“Rebut kembali kejayaan itu, kami rindu masa itu.

Sejarah berbicara tentang kita, dan kuyakin kau pasti bisa.”

(Makassar, 6–7 November 2017)

--

--