Rubah (Puisi Achmad Hidayat Alsair di Fajar Makassar, Minggu 5 Juni 2016)

Achmad Hidayat Alsair
2 min readMar 2, 2017

Ada satu puisi saya berjudul “Rubah” yang dimuat dalam rubrik “Budaya” harian Fajar Makassar edisi Minggu, 5 Juni 2016. Di lembar yang sama juga turut dimuat cerita pendek karya bang Muhammad Amir Jaya berjudul “Wali Kota Baru”, puisi-puisi Rachmat Faisal Syamsu (“Rindu Ramadhan 1”, “Rindu Ramadhan 2” dan “Rindu Ramadhan 3”) serta Apresiasi Kasman Mc Tutu dengan judul “Mendaras Natisha, Mengaji Parakang”. Berikut ini salinan puisi saya yang dimuat.

______________________________

Rubah

Ode untuk Leicester City FC

Lihatlah, dia mengintai dari jauh

berkali-kali jerembap dalam jurang

berkali-kali gulat dengan pekat lumpur

berkali-kali pelanting oleh rembulan biru.

Tapi tetap saja dia menolak gelimpang

ruas-ruas cakarnya menipis sudah kikis

tapi dia yakin pada akhirnya tumbuh kembali

sebaran bulu karena terjang para gergasi

tapi dia yakin pada akhirnya tumbuh kembali

gemeretak tulang oleh ribuan mata tombak

tapi dia yakin pada akhirnya satu kembali.

Maka semadi dia dalam sarangnya,

susun rencana taklukkan cakrawala.

Kukunya dia asah, menajam.

Bulunya menumbuh, samaran.

Tulangnya menyatu, mengeras.

Dan rencana dia jalankan

seakan tamu hari ini adalah kekalahan

gergasi terpelanting ke dalam jurang

rembulan biru tenggelam dalam kubang

para penombak terusir dan gelimpang.

Di atas bukit dia membusung

menghirup senja beraroma kemenangan,

dan dia bersiap kelana ke padang sabana.

(Mei 2016)

--

--

Achmad Hidayat Alsair

Percaya bahwa tidur siang lebih berguna daripada begadang.