Menuju Casbah (Puisi-puisi Achmad Hidayat Alsair di Analisa Medan, Minggu 23 Oktober 2016)

Achmad Hidayat Alsair
2 min readFeb 22, 2017

Ada tiga puisi saya yang dimuat pada rubrik “Rebana” surat kabar harian Analisa Medan edisi Minggu 23 Oktober 2016. Turut dimuat pula cerita pendek karya Sisi Rosida berjudul “Tuor” dan dua puisi karya Putri Silaban yaitu “Sandiwara di Ujung Temu” dan “Lika Liku Janji”. Berikut ini salinan seluruh puisi.

______________________________

Kelaki-lakian

aku peniti dalam rahimmu
geliat bebas hingga tandas
menuju jantung yang lupa kau semai
biara memberi sembahan susu tak manis
malam dan segala jenis temaram
gelepar di lereng cakrawala
sesunyi dengkur binatang purba
sepasrah hampar lantai pualam
panggilan segala nama bulan
diterakan dalam almanak benak
kau campakkan dia dalam jeram
dayung tak kokoh, hanya jemari
sangkur tanpa mata dan mandul
hari-hari dalam kurungan
dicerabut kuku dari setiap ujungnya
hanya tersisa meramu waktu
dan berbagai murung lagi renung

(Makassar, Juli 2016)

______________________________

Menuju Casbah

Tunggu, haruskah kita berhenti dan bertanya pada bulu kuduk hangus?
aku gemetar tatkala menjalani inkarnasi, terbentang di hadapan gemunung terik
Maka berilah kendi tanpa penutup, padanya kami isikan beribu terima kasih
dan petunjuk arah menuju padang bulan di mana punggungmu akan merasa haus

Jantungmu berdegup tanpa irama, hanya suara-suara, pantul gema lemah
arakan alam menuju atap-atap rumah, laut menyumbang bebauan dan sedih
Tubuh yang berlubang oleh peluru, kau umpan ringkihmu menuju damai
bayaran tak setimpal untuk senja dan seteguk susu dalam cendawan

Memetik keliaran di halaman belakang, kita semai dia dalam ladang minyak
legam dan tumbuh menjadi abu, kau sisakan hingga dikremasi dalam air
Ampuni diriku yang acapkali lupa, kau ahli meniup nafasku menuju awan
lalu aku menunggu tumpangan di halte bis menuju kotamu

(Makassar, Juli 2016)

______________________________

Sebelum Hari Bahagia Tiba

Ada yang berkicau, resahmu bertengger di jaun jendela
kau pelihara dia cukup lama hingga sanggup bersarang di kepalamu
tak mampu dikekang hingga berlarian sembari berbisik di kedua telinga
terasa syahdu lalu luruh air mata, dan tak ada sapu tangan di kamar
sangsi terhadap ingatan sendiri mengenai kisah-kisah perjalanan
nyalimu ciut oleh suara-suara halus pendamping hari-hari gelisah
tabah hanya bagian dari kepura-puraan agar wajahmu terlihat tegar
menunggu sesuatu yang sedang dalam perjalanan menuju berandamu

Sementara ada diriku di balik pintu ruang tamu mengukir sebaris kalimat
“aku akan bertamu jika tak ada lagi undangan untuk kau sebar”

(Makassar, Juli 2016)

--

--