Bersarang di Gunung Mekongga (Puisi-puisi Achmad Hidayat Alsair di Kibul.in, Jumat 28 April 2017)

Achmad Hidayat Alsair
3 min readMay 13, 2017

Ada lima puisi saya yang kali ini dimuat di kanal “Puisi” situs sastra Kibul.in, Jumat 28 April 2017. Tautan menuju artikel : http://kibul.in/puisi/bersarang-di-gunung-mekongga-oleh-achmad-hidayat-alsair/. Berikut salinan seluruh puisi tersebut.

______________________________

Bersarang di Gunung Mekongga

Kini giliranku mengintai basah lembah di utara

kala peladang memanen embun dan wanitanya memanggul lesung

perlahan ribuan ruas silau datang menempa keruh mata

disesapnya lumut peluh, ditanamnya bibit dahaga

kulerai kerongkongan dari lidah sebelum lambung terkulai

Tiba di hulu, sambutan kuntum-kuntum pengabdi surya nirmala

aku beku dinaungi tudung lengan dahan pengayun

hening meresik meminta izin mengukur aliran nadi

tepian sungai bahkan takzim rebah menerima rubuh kabut

dan di udara, ayat-ayat gigil diapungkan binatang melata

Ritmis tarian pagi menyambut datangnya resah langit

kota mengekalkan asap cerobong, ingin kucabut serak beton di dadaku

kemudian aku akan pulang padamu dengan cara berlari paling belia

kausarungkan perih, mengantarnya menuju remang telaga

merengkuh telinga, kurapal mantra “inaku ehe inggo’o

(Makassar, 18 Januari 2017)

Keterangan :

  1. Gunung Mekongga adalah gunung yang berada di kampung halaman penulis.
  2. Inaku ehe inggo’o” adalah kalimat bahasa Tolaki (salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tenggara) yang berarti “aku sayang padamu”

______________________________

Salinan Kidung Kuno

Sayang, nyanyikan dulu sebuah himne

irama manuskrip asal pematang kuning

di mana benih rahim seluruh induk Desember

timpali kehendak bintang menerangi azimut

Sebab malamku kian nampak petang

semburat dari jubah compang-camping

pertolongan pertama adalah berdoa

selain mendengar sabda kehidupan dari bukit

Adalah kecamuk mengajakku bermain

teka-teki dan tafsir makna mukjizat

dalam khutbah para nabi nyaris kelaparan

tersesat kala mengabarkan berita gembira

Maka telusuri jalan setapak kawanan keledai

juga kumpulkan nubuat dari repih manuskrip

tatkala anak-anak penuh semangat menulis pesan

perihal mata tombak yang tumpul perlahan

Ingin kulepas para merpati yatim

sebab tragedi tidak juntai di paruh

hanya daun zaitun pohon kering

dan penunjuk arah menuju menara lonceng

Sayang, hendak kulengkapi kidung ini

dengan erat hening dekapanmu

(Makassar, 20 Desember 2016)

______________________________

Percakapan Saat Menuju Bantimurung Jam Delapan Malam

“Tiga tahun di Makassar, kota penuh kepelbagaian

dan kerap mengunjungi pusat-pusat belanja seliweran,

kudapat pembelajaran dari puluhan amatan.”

“Dari segala plesiran itu, apa yang kau catat?”

“Banyak pengunjung sama sekali tidak hirau riuhnya cengkerama

tetapi sebaliknya, datang membiakkan kesepian. Bisa kau tengok sorot mata mereka,

kesepian dipajang begitu pampang, tandingan etalase dan lampu-lampu yang terlalu terang.

Mereka tak menghalau sepi, justru merayakan ego dan rasa tidak puas diri.

Coba tengok sekilas ke dalam bioskop, toko buku dan wahana permainan,

mereka bertandang sembari diboncengi tatapan paling kosong.

Ditemani dua tiga orang tetap saja berkarib kesepian,

sementara kawan mereka serupa pegawai penyuluhan program negara, kerap diabaikan.

Sembap lingkari mata, masih belajar patenkan dusta suara dada.

Mereka timpali kesepian dengan kesepian lain,

tanpa sadar juga tekun mengasah pisau, menabuh peperangan dalam batin.

Samarkan hening dalam riuh, pulang pun tetap menjamu kesepian.”

“Harusnya pemerintah lebih banyak rencanakan taman,

disanalah sejatinya penerapan makna kata pergaulan.”

“Ah, keterasingan masih menjadi teman akrab,

aku yakin mereka belum diwahyukan keyakinan.”

(Bantimurung, Mei 2016)

______________________________

Hari Memanggul Beban

Apa semuanya akan terasa ringan?

Tanganku terlalu sempit untuk pijakanmu

terlalu sangsi jika menuntun arah

justru kau kerutkan aku dalam dingin

Apa pernah terpikir menebus diriku?

Beri aku banyak tubuh untuk dipanggul

dan lonceng untuk digemakan

saat fajar, kala malam yang gaungnya menyentuh bintang

hingga kuingat jarak menuju rumah tanpa suguhan serta jamuan

Masih belajar memahami gemetar tangan

karena jam istirahat membuka kelelahan

maka kujamin takkan ada langkah licin gelincir

atau keriangan tanpa asinnya peluh

Menarilah, dan rayakan yang tak perlu

cukup dengan memandang goresan di punggung

(Kaluppini, Juli 2016)

______________________________

Malam Ganjil Rumi

Mainkan musiknya. Begitu elok, pengundang ramai

Sebab telingaku senantiasa dahaga pada dendang

menghimpun segenap tenaga untuk rotasi di tipis bumi-Mu

Tuanglah semua minuman, kita akan selalu terjaga

demi menjalin cucuran air mata, disuguhkan sebagai ibadah

khusyuk lagi penuh cinta, senandung lemah majelis penghamba

Tabuhan irama rebana, bising gemericing

nama-nama dan puji-pujian tak henti kami tuturkan

keributan atas nama rindu, tegangkan bulu roma

Segenap juga seluruh, hanya pada-Mu

Oh cinta, cintaku, cinta-Mu

Menahan rinduku padamu, menahan rinduku pada-Mu

(Makassar, Juni 2016)

--

--