Pada Kota Yang Aku Lupa Namanya (Puisi-puisi Achmad Hidayat Alsair di Lombok Post, Minggu 16 Oktober 2016)

Achmad Hidayat Alsair
3 min readFeb 22, 2017

Ada dua puisi saya yang dimuat di rubrik “Literasi” surat kabar harian Lombok Post edisi Minggu 16 Oktober 2016. Di halaman yang sama turut dimuat cerita pendek karya Leikha Kha berjudul “Cuka”. Berikut ini salinan kedua puisi tersebut.

______________________________

Pada Kota Yang Aku Lupa Namanya

Aku mengentahkan waktu yang selalu kau sebut dalam setiap doa
mengubahnya jadi ratusan debu hasil cipratan siang kepanasan
dan kepulan asap bakar malam dari keremangan ruang tamu.

Kau lembing dan aku penombak gusar karena mata dan telinga
menipu jemari agar mau sejenak mengusap tembok, mengabaikan lapangan
tempatku harusnya melepaskan segala kain yang membekap.

Padahal ada hal-hal yang harus kita ketahui lebih banyak,
salah satunya tentang kenapa arak-arakan awan menuju kamarmu selalu satu arah :
ke belakang, dan kita mengejar hingga masuk pelataran rumah tetanggamu.

Aku mandi, membersihkan diri dengan air mata yang kau lupa tuang
dalam teko-teko teh di ruang tamu. Berniat kau suguhkan segala ratapan
bersama dengan hidangan makanan dari sebuah kota
dimana kau dan aku dulu bertikai hingga jemu.

Kepada pagi dan demi tatapan matamu yang begitu dekat,
lekat namun asing dalam keramaian jalanan malam. Kuciptakan semua dalam benakku sendiri, kuingin setiap katamu bisa kurekam
lalu kuhapus agar tidak meninggalkan bekas berupa kawah dan bara.

Engkau gedung-gedung yang selalu mendongak mencari arah datangnya senja,
engkau lampu dan trotoar perindu malam tanpa tapakan,
engkau nama yang selalu kucari dalam sebuah buku di perpustakaan tua.
Padamu, lupa adalah sebuah dosa.

(Makassar, 4 Juli 2016)

______________________________

Intisari Hujan Sore Ini

Kusesap secangkir kopi seorang diri, karena di halaman mendung mengantri,
ingin kumiliki setiap kata-kata basah yang pasrah menimpa tanah sore ini,
tapi hujan berkata itu semua properti pribadi milik Bumi, jelas tak mampu kubeli
tak hilang akal, kusiapkan seperangkat kediaman sebab dia menolak dibuang ke kamar mandi.

Kubuka lembar buku sejarah, membaca bagian bagaimana cara membentuk negara,
satukan mulut besar dengan kebohongan yang diulang-ulang sepanjang hari
maka terciptalah ribuan mesin pelaksana perintah apa saja
dan kulihat tubuhku, daging berusus hitam karena kopi menolak untuk dicerna.

Aku patuh kepada segala perintahmu, dari seseorang yang semenjak pagi hingga sore selalu bertanya.
Aku tidak memiliki wewenang atas diri sendiri, tak sanggup melakukan perlawanan.
Engkau tirani, dan aku adalah rakyat yang diperintah setiap hari.
Tapi tak sanggup kulakukan revolusi, berontak meminta kebebasan dan keadilan.
Telanjur kurantai kakiku secara sukarela, dan kuncinya kutelan masuk ke saluran pencernaan.

Kulihat pemandangan sore hari menjelang senja, kutumpahkan sisa-sisa kopi ke atas genangan yang timbul dari hujan tadi.
Kini giliranmu bertamu dengan dandanan toga upacara sarjana,
aku diam mendengarmu bercerita mengenai kesulitan skripsi dan pahit revisi.

Tak mampu kubagi ceritaku, hari-hariku sama sekali tidak menarik
hanya jejalan kemalasan yang kuhabiskan dengan menulis larik-larik.
Mengenai diriku, mengenai dirimu. Mengenai sekitarku, bukan sekitarmu.
Dan kudapati puisi ini masih miskin diksi.

(Makassar, Mei 2016)

--

--