Sakit Kepala oleh Tembakau dan Demonstrasi (Puisi-puisi Achmad Hidayat Alsair di WartaLambar, Sabtu 6 Mei 2017)

Achmad Hidayat Alsair
4 min readMay 13, 2017

Ada tujuh puisi saya yang kali ini dimuat di situs berita regional Lampung Barat WartaLambar.com, Sabtu 6 Mei 2017. Tautan menuju artikel : http://www.wartalambar.com/2017/05/puisi-karya-hidayat-alsair.html. Berikut salinan seluruh puisi tersebut.

______________________________

Sakit Kepala oleh Tembakau dan Demonstrasi

Preambule :

Kemarin aku pening karena mendongak terlalu lama

menebak-nebak isi pesawat dan hati penumpangnya

mereka jauh dari rumah, terdampar di hampar awan

sebagian pura-pura pulas sembari belajar duduk terlelap

Isi :

Bunga tembakau tumbuh dari mulut dan telingaku

tetangga mengajaknya berkencan di alam mimpi tengah malam

sedikit lagi, sebelum temanku curiga aku melamun terlalu lama

tidur kembali, kucari anak-anak bermain tebak nama orang tua

Intermezzo :

Berita pagi ini perihal sekelompok laki-laki berbusana setelan lengkap

menuntut pemerintah mengesahkan cinta dan pelukan pasangan

sebagai obat mujarab penghilang lelah setelah seharian mencari upah

demi daftar liburan sebagai bentuk tunai janji pada kekasih

Penutup :

Aku berselimut, menggigil karena angin yang seruak di celah spanduk lusuh

milik iklan layanan masyarakat buatan organisasi orang-orang patah hati

tidak ada televisi di sini, aku semakin pening, kebingungan

memeriksa kembali apa kenanganku ikut mengacau di jalanan ibu kota

(Makassar, November 2016)

______________________________

Belajar Jenis Warna

Kau birukan lautku, maka padanya kuapungkan risau

pengantar menuju cangkir kopi sebelum jam kerja datang terlalu cepat

Kau merahkan kamarku meski malam bahkan terlalu hitam

tetap saja aku membatu, melihat peta angin dan berita cuaca sekali lagi

Kau kuningkan soreku sebelum mendung melanun

rambat keladi bekerja terlalu keras, di kakinya menggenang kenang

Kau putihkan rindu, warna paling nyala di matamu

garansi kereta pengantar untuk segera menuju dekapmu

(Makassar, Desember 2016)

______________________________

Museum Berwarna Biru

Kuregangkan otot-otot, berusaha rileks sebelum masuk pelataran temaram

di mana dinding-dindingnya penuh kalender lama berkulit lusuh

Aku melangkah, kemudian terantuk pena yang kau berikan untuk menulis

rasa pahit-manis perjalanan kita pada permukaan purnama

Aku bangkit, namun tanganku meliar ke harpa yang sering dipetik untuk melagukan

elegi hari demi hari perjelajahan dalam sebuah labirin panjang

Aku tengadah, terlihat sarang laba-laba yang selalu ingin kau gusur dengan paksa

karena lembut ayunannya seringkali membuatmu lelap tak sengaja

Aku tunduk, di lantai kulihat sebuah bakiak yang kau belikan

agar aku tetap bersuara kala diam dan malam gerayangi jenjang kakiku

Aku lalu melangkah ke depan, di dinding terpajang sebuah potret buram

saling berangkulan, pura-pura bahagia, di atas bukit untuk menjamu matahari terbit

Aku mundur ke belakang, dan tiba-tiba tanganmu erat mendekap

sembari bisik hangatnya tungku tua ruang tamu

Mari kuterbangkan dirimu menuju sebuah gedung dalam kobaran

di sanalah nanti kita rela untuk rubuh

(Makassar, April 2016)

______________________________

Sabana Malam Kota

Kita sejenis keliaran yang tidak mungkin dikandangkan

bertugas kacaukan antrian panjang para penjemput malam

di sebuah kota terasing bernyawa kesepian

sayup menangkup pancar purnama tidak sempurna

Deru dan lampu bergulir begitu cepat, perburuan

lalu hanya ada resik jemari membentuk satu kepalan

sengaja diacungkan, sinyal sebuah tantangan

bertanya ke mana arah menuju rumah sakit

Bedeng tanpa penghuni, terusir oleh sirene

aku meringkik di hadapan para pengelana

pamerkan kejantanan, direkam dalam ingatan paling pendek

fajar menanggalkan suraiku, sembap kehabisan jumawa

(Makassar, Juni 2016)

______________________________

Tiga Ayat Laporan Cuaca

Yang gerak menari sayu kemayu hanya musim

bergelayut dan membelai kepala meski enggan mukim

jemarinya sibuk menggelitik sekat-sekat angkasa

simbol moleknya kehadiran dan genggaman kuasa

Kepada terang dia bernazar untuk tetap abai

jika amuk, mampu lelehkan gigil si semampai

perintahkan seluruh jenis angin menerjang

dan di bumi daun-daun rubuh menjelma genang

Membujuk tanpa henti hujan guna mencumbu bumi

kisah asmara paling palsu, dengan diri sendiri

malam datang, tubuh jenjangnya lalu bersebaran

usaha menolak tamu bernama kerentaan

(Makassar, Mei 2016)

______________________________

Malam Ruang Tamu

Teras rumahku menjadi sarang ramai percakapan

diwartakan belasan remaja penuh rasa ingin tahu

Ada penasaran seorang wanita pada pelabuhan terakhir

di bentang wajah dan jenjang betis

Dari kamar, seseorang berbicara

kenangannya belum lekang benar

terendap di mata terlampau lama

Ditimpali suara nyanyian

niatan mengundang bising atau sakit hati?

aku menghindari semua jawaban

Telingaku rekah malam ini

mendengar sakit selembar puisi

(Kaluppini, Juli 2016)

______________________________

Pulang ke Rumah Sementara

Aku terjaga sembari menembak peluh menuju cahaya purnama

sebuntal lelap kugantung di jendela, sisa benih mimpi beranda

bila ada yang ikut begadang, itu hanya ritual jalan menyambut roda

pungkiri tujuan pulang, khayal singgah membuang peta dari jembatan

Aku lemah oleh tikaman ilalang dan dedaunan gugur sepanjang amatan

selimut hanya tameng tak kokoh, sembunyi dari rindu tanpa boncengan

(Enrekang-Makassar, Agustus 2016)

--

--